Serunya Wisata ke Torino

Serunya Wisata ke Torino

Serunya Wisata ke Torino – Hari sudah beranjak sore, ketika kereta yang saya tumpangi tiba di Stasiun Rhaetian, Tirano, setelah menempuh perjalanan dari St. Moritz, sebuah kota kecil di Swiss. St. Moritz terkenal sebagai tempat peristirahatan maupun persinggahan bagi orangorang yang ingin main ski di wilayah Pegunungan Alpen. Tirano tidak kalah mini dari St. Moritz. Terletak di wilayah Valtellina, Provinsi Sondrio, Italia bagian utara. Tirano hanya seluas 32 km persegi dengan penduduk hanya sekitar 9.000 jiwa. Selain dari St. Moritz, Tirano dapat dicapai dari Milan, Italia dengan kereta. Kota ini nyaris tidak menunjukkan tanda-tanda keramaian pada sore hari, sehingga saya dan isteri memutuskan beristirahat di sebuah hotel yang hanya berjarak beberapa langkah dari stasiun. Pagi harinya, setelah sarapan dan menikmati secangkir cappuccino, kami pun mulai menjelajahi kota mungil ini. Kesan pertama adalah keramahan penduduknya. Nyaris di setiap sudut kota terdengar sapaan buongiorno (selamat pagi) dari penduduk lokal.

Bisa jadi temoat ini tidak terlalu turistik karena hamipr tidak terlihat wajah-wajah orang asing di kota ini. Tirano sejak tahun 2008 telah dimasukan sebagai salah satu slow cities atau kota perlahan. Konsep kota perlahan digagas pada 1999 oleh Paolo Saturnini wali kota Greve-inChianti yang segera disambut baik oleh para wali kota Orvieto, Bra, dan Positano semuanya di Italia yang berkomitmen menciptakan kota yang tenang, menjaga kelestarian lingkungan hidup, estetika tradisi, hingga mengembangkan kerajinan dan makanan lokal.

Dari Italia, slow movement ini telah menyebar hingga 201 kota di 29 negara dan satu entitas (Taiwan). Sehingga tak salah lagi bila Tirano menjadi pilihan bagi traveller yang ingin merasakan local hospitality dan menghindari tempat-tempat turistik yang begitu mainstream. Inilah tempat yang tepat untuk menyapa penduduk lokal dengan tidak melewatkan menyantap homemade pasta, serta menyeruput espresso atau cappuccino di kafe-kafe lokal.

Akomodasi di Torino

Tidak sulit mencari hotel, penginapan atau b&b yang nyaman dan aman dengan rate relatif terjangkau. Tidak sampai 100 meter dari pintu keluar stasiun kereta Tirano sudah terlihat deretan hotel. Jika ingin merasakan suasana rumah ala pegunungan Alpen, Anda dapat mencoba b&b yang ada di tengah maupun pinggir kota. Hotel di Torino semuanya mempunyai genset yanmar yang siap memberikan listrik cadangan bila suatu saat terjadi masalah pada listrik utama. Harga genset solar yanmar di kota ini terbilang murah, jadi wajar saja bila yanmar paling banyak digunakan.

Kisah Torino Dimasa Lalu

Berdasarkan catatan sejarah, Tirano sudah berdiri sejak abad ke-11 Masehi. Hingga kini, wajah masa lalu Tirano masih terpampang dengan jelas dan membuat waktu seolah berhenti di beberapa sudut kota. Kota tua dan kota ‘modern’ Tirano dipisahkan oleh Sungai Adda. Meski sebenarnya, sulit membedakan antara tua dan modern di tempat ini, karena Tirano secara keseluruhan menampilkan wajah antik khas Pegunungan Alpen Italia. Spot terpenting Tirano apalagi kalau bukan Piazza San Martino, di situ berdiri Gereja San Martino yang berdiri sejak abad ke-10 Masehi. Di sekeliling Piazza San Martino inilah berdiri bangunan-bangunan lama, terutama perumahan yang didominasi oleh struktur dari batuan gunung dengan wana alaminya, abu-abu. Di lorong-lorong kota masih dapat ditemukan mural atau lukisan dinding bertema religius.

Di Italia terdapat teknik lukisan dinding fresco buono, yaitu teknik melukis di atas dinding ketika plesteran tembok masih basah, dan fresco secco ketika plesteran tembok sudah kering. Di balik lorong-lorong itu pula saya menemukan sebuah fontana atau air mancur kuno yang masih berfungsi dengan air yang sangat jernih. Di dekat air mancur itu terdapat foto tua yang berasal dari awal abad ke-20 yang menggambarkan fungsi fontana tersebut sebagai sumber air utama penduduk sekitar pada masa itu.

Madonna di Tirano

Lokasinya yang terpencil di balik Pegunungan Alpen, Tirano sangat kental suasana Katolik. Sejarah mencatat, Tirano pada abad ke16 diliputi berbagai masalah, mulai kemiskinan hingga ancaman serangan dari luar, salah satunya dari Graubünden, Swiss yang pada 1486 pernah menyerang Chiavenna dekat Tirano. Madonna di Tirano Di saat penuh kegelisahan itulah, konon, pada 29 September 1504, Tirano dikejutkan oleh peristiwa di mana Bunda Maria atau yang disebut Madonna (Our Lady) menampakkan dirinya di hadapan seorang pria bangsawan bernama Mario Omodei. Penampakan Bunda Maria itu lalu memerintahkan Mario Omodei membangun gereja di tempat penampakkan itu sebagai bentuk penghormatan kepada diri-Nya serta berjanji akan mengakhiri kesulitan yang sedang dihadapi rakyat Tirano.

Untuk memenuhi permintaan itu, rakyat Tirano mengumpulkan donasi, bahkan dari luar Tirano. Pembangunan gereja dimulai dengan peletakkan batu pertama pada 25 maret 1505. Gereja yang dinamai Il Santuario Della Madonna Di Tirano atau La Basilica Della Madonna Di Tirano ini masih berdiri kokoh dan menjadi kebanggaan rakyat setempat. Hingga kini, rakyat Tirano merayakan hari penampakan Bunda Maria tersebut setiap tanggal 29 September.

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *