Rumah Klasik Adat Hibualamo

Rumah Klasik Adat Hibualamo

Hibualamo dalam bahasa daerah Tobelo, Hibua Lamo datang dari kata Hibua yang bermakna Rumah serta Lamo yang bermakna Besar, jadi bermakna ‘Rumah Besar’. Kearifan lokal ini berakar dari pandangan jika semua masyarakat daerah Halmahera Utara ialah datang dari satu keturunan serta tempati satu Rumah Besar menjadi tempat mereka hidup dengan rukun, memecahkan permasalahan bersama dengan, toleransi serta satu tiada terpisah-pisah oleh agama.

Hibualamo sendiri mulai ada semenjak tahun 600 Masehi di mana, disetiap desa yang berada di 10 Hona ada Hibua Lamo. Masuk pada 1606, pada saat VOC membombardir semua Hibualamo serta pusat kerajaan Moro yang saat itu berpusat di Desa Mede (Keratonnya berarsitektur Hibualamo). Serangan itu, lantas pada 1926 melalui musyawarah pemangku adat dari Tobelo Galela serta Kao kembali mendirikan rumah klasik adat mereka di desa Gamsungi untuk menjaga ekstistensi hibualamo.

rumah klasik
Akan tetapi, masuknya penjajah Jepang, kembali membuat Hibualamo yang telah dibikin itu dihancurkan kembali. Lokasi rumah klasik adat Hibualamo yang berada di Desa Gamsungi waktu saat ini ada di tempat dibuatnya Hotel Presiden.
Saat kemerdekaan Republik Indonesia yaitu pada tahun 1945-1950, beberapa pemangku adat Tobelo kembali membuat Hibulamo. Akan tetapi kesempatan ini, tempat yang diambil yaitu di Jalan Halu Desa Gosoma.

Bangunan

Rumah adat Hibualamo berupa delapan pojok dengan pintu masuk ke arah keempat mata angin. Orang Tobelo mengistilahkan dengan wange mahiwara (pintu sisi Timur), wange madamunu (pintu sisi Barat), koremie (pintu sisi Utara) serta korehara (pintu sisi Selatan). Ke empat pintu yang menghadap ke ke empat mata angin melambangkan keterbukaan pada siapapun yang hadir.
Hibualamo menjadi Rumah Besar dalam pengertian ruangan geografis ataupun ruangan bangunan, melambangkan sekaligus juga persatuan yang terbuka yang bertujuan pada kemanusiaan universal. Persatuan tidak semata-mata dibatasi ikatan pertalian darah, suku, lokasi, agama tetapi terbuka serta inklusif pada kebanyakan orang tiada melihat latar-belakang. Menjadi pusat, hibualamo ialah satu rumah besar dalam pengertian rumah bersama dengan tempat kehidupan saling didukung.

Warna Bangunan

Warna yang menguasai pada rumah adat Hibualamo ada 4 dengan arti filosofis yang berlainan. Warna hitam melambangkan solidaritas, merah melambangkan semangat juang komune Canga. Sedangakan kuning melambangkan kecerdasan, kemegahan serta kekayaan. Serta warna putih melambangkan kesucian penduduk 10 Hoana yang sekarang ini menempati lokasi Halmahera Utara (Halut) dan yang paling utama tetap menonjolkan konsep rumah klasik pada bagunan tersebut. vvdm-gallery.com

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *